Suku Aborigin : Sejarah Dan Kebudayaannya

Selain di Indonesia kita juga dapat menemukan suku-suku asli yang mendiami wilayah tertentu di dunia ini. Berbagai macam suku tersebut memiliki unsur-unsur kebudayaan, kesenian, adat istiadat, kepercayaan dan hal lainnya yang berbeda satu sama lain. Beberapa suku didunia ini cukup terkenal karena budayanya dan menjadikan ciri khas dari daerah ditempat yang didiaminya.

Salah satu suku terkenal didunia dan cukup populer adalah suku aborigin di Australia. Suku aborigin (atau yang lebih dikenal dengan indigineus Australia), adalah masyarakat pertama yang ada di Australia sebelum orang kulit putih datang dan mendiami Australia. Mereka memiliki ciri–ciri yang relatif sama dengan masyarakat Papua di Indonesia (seperti kulit, rambut, perhiasan tubuh).

Ketika orang Eropa mulai memasuki Benua Australia pada tahun 1788, jumlah orang Aborigin diperkirakan masih terdapat 350.000 jiwa. Mereka terpecah ke dalam 500 anak suku bangsa dan kelompok, masing-masing dengan dialek (bahasa) berbeda. Beberapa nama suku aborigin yang terkenal adalah Aranda, Bidjandjara, Gurindji, Gunwinggu, Kamilaroi, Murngin, Tiwi, Wailbri, Wurora dan Yir-yoroni. Perbedaan bahasa tersebut mempersulit komunikasi antar suku bangsa Aborigin.

Nah, suku Aborigin mulai merasakan penderitaan ketika Penemuan emas di benua itu. Penemuan emas membawa malapetaka bagi orang Aborigin. Pendatang dari Eropa mendesak kehidupan mereka, mengusir mereka dari tempat tinggal dan merampas tanah serta daerah perburuannya. Banyak orang Aborigin dibunuh. Mereka yang tersisa diusir ke daerah gersang dan tandus, sehingga akhirnya banyak yang mati karena penyakit dan kelaparan.

Kepunahan orang Aborgini dipercepat pula dengan peperangan antar suku mereka sendiri. Kini jumlah orang Aborigin diperkirakantinggal 144.000 jiwa, termasuk 50.000 orang Aborigin asli yang sebagian besar berdiam di daerah pedalaman dekat dekat gurun tandus. Selebihnya adalah orang Aborigin yang sudah bercampur dengan ras lain. Nah, dibawah ini terdapat ulasan mengenai sejarah dan budaya suku aborigin.

Sejarah Suku Aborigin

Suku Aborigin merupakan sebutan khas bagi penduduk asli Benua Australia. Sebutan tersebut diambil dari bahasa Latin aborigine, yang memiliki arti “dari awal” dan diperuntukkan untuk penduduk yang sejak awal tinggal di suatu wilayah atau pulau. Oleh karena itu istilah aborigine mempunyai arti yang sama dengan pribumi.

Suku ini pada awalnya mendominasi daratan Australia, namun setelah orang-orang Eropa menemukan benua tersebut suku Aborigin mulai terdesak keberadaannya. Nasib suku Aborigin hampir sama dengan suku Indian di Amerika, menjadi suku asli yang terpinggirkan akibat kedatangan bangsa asing. Bentuk fisik orang Aborigin mirip orang Irian di Indonesia.

Sehingga terdapat teori bahwa orang Aborigin merupakan keturunan perantau dari Irian yang tiba di benua itu sekitar 50.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, bentuk fisik orang Aborigin masa sekarang rata-rata lebih kecil dan pendek jika dibandingkan orang Irian. Rambut mereka juga keriting, namun sebagian warnanya sudah kemerah-merahan.

Sementara warna kulit mereka gelap. Yang menjadi perbedaan ciri khas suku Aborigin dan suku-suku lain disekitarnya ialah suku Aborigin mempunyai senjata berburu yang disebut dengan senjata Bumerang. Senjata ini ketika digunakan untuk berburu saat dilempar jauh akan kembali lagi, senjata ini sering digunakan untuk berburu kanguuru, babi di hutan atau di padang savanah.

Selain senjata ini, suku Aborigin juga masih tetap menggunakan senjata lainnya seperti senjata tombak dan busur panah.

Dan pada saat musim dingin datang, suku Aborigin menggunakan bahan pakaian yang terbuat dari kulit kangguru dari hasil buruan mereka. Dalam kesehariannya suku aborigin tidak mengenal yang namanya bercocok tanam ataupun memelihara ternak, mereka lebih senang berburu di hutan dari pada melakukan hal itu, itulah sebabnya suku ini tidak pernah pergi jauh dari sumber air ataupun sungai.

Dan tempat tinggal mereka masih bersifat sementara atau mereka selalu berpindah-pindah dalam menetap. Orang Aborigin membangun tempat tinggal mereka semi-permanen, sebagai masyarakat nomaden lebih menekankan pada hubungan keluargan, kelompok dan negara daripada pengembangan masyarakat agraris.

Penekanan lebih besar diberikan pada kegiatan sosial, keagamaan, dan spiritual. Sistem kekerabatan yang canggih dan kompleks menempatkan setiap orang dalam berhubungan dengan orang lain dalam kelompok dan menentukan perilaku individu masing-masing orang.

Aborigin di Era Modern

Pemerintah modern Australia tidak pernah mengakui adanya diskriminasi terhadap suku Aborigin. Namun, dalam kenyataannya perlakuan pembedaan berdasarkan warna kulit di bidang politik, agama dan ekonomi masih tetap terasa hingga kini. Masyarakat kulit putih pada umumnya masih menunjukkan sikap superior terhadap orang Aborigin.

Kondisi tersebut menyebabkan orang Aborigin masih tetap terasing di tanah airnya sendiri. Pada tahun 1970-an, pemerintah Australia mulai memberikan peluang lebih luas kepada orang Aborigin, terutama di bidang politik dan pendidikan. Beberapa tokoh suku Aborgini pun berhasil tampil ke permukaan panggung politik.

Tokoh pertama adalah Neville Boner, yang cukup dikenal karena pencapaiannya sebagai Aborigin pertama yang terpilih sebagai anggota parlemen federal Australia. Selanjutnya ada nama Douglas Nicholls sebagai Aborigin pertama yang terpilih sebagai senator, mewakili negara bagian Queensland (1971).

Pada 31 Maret 2014 yang lalu, suku Aborigin menunjukkan keinginannya merdeka dari Inggris. Mereka ingin mengakhiri pemerintahan kolonial yang telah berlangsung lebih dari 200 tahun, dengan mengirim surat kepada Ratu Elizabeth II dan pemerintah Australia.

Sebuah deklarasi pembentukan negara Murrawari yang menjadi rumah suku Aborigin pun telah dilakukan. Sebelumnya gerakan kedaulatan Aborigin di Australia sudah terlihat pada tahun 1972. Sebuah kelompok Gerakan Kedutaan Kemah Aborigin mendukung hak atas tanah pribumi dan mengusir Inggris yang tidak pernah punya kuasa sah atas benua Australia.

Budaya Suku Aborigin

Suku Aborigin sendiri terbagi atas banyak kelompok menurut wilayah yang mereka tinggali, diantaranya adalah;

  • Aborigin Bama di wilayah Queensland.
  • Aborigin Koori di wilayah New south Wales dan Victoria.
  • Aborigin Murri di wilayah Queensland Selatan.
  • Aborigin Noongar di wilayah selatan bagian Australia Barat.
  • Aborigin Nunga di wilayah Australia Selatan.
  • Aborigin Anangu di wilayah dekat perbatasan Australia Selatan dan Barat.
  • Aborigin Palawah yang tinggal di pulau Tasmania.

Komunitas Aborigin terbanyak ialah Aborigin Anangu yang memiliki populasi 32,5% dari seluruh orang Aborigin di Australia, namun jika dihitung keseluruhan dengan penduduk Australia suku Aborigin hanya berjumlah 517.000 jiwa dan jika di persentasi hanya 2,3%.

Suku ini juga memiliki kegiatan seni budaya tahunan, yang disebut dengan nama perayaan Kulama ‘Cheeky Yam’, yang diadakan selama 3 hari 2 malam setiap tahun pada bulan Oktober hingga Maret. Perayaan ini dimaksudkan untuk mengingat semua kegagalan di tahun sebelumnya dan mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi di tahun mendatang.

Dalam perayaan ini ada kegiatan menyanyi dan menari. Dalam perayaan ini, semua orang ikut ambil bagian, karena ini merupakan bentuk kebudayaan setempat yang usianya sudah sangat tua. Cheeky Yam adalah nama sejenis tanaman yang menjadi tokoh utama dalam upacara Kulama.

Dalam ritual utama, seorang sesepuh akan menandai pusat area yang digunakan untuk upacara Kulama dengan cara menancapkan sebatang tongkat dan membuat lubang di tengah area. Sesepuh tersebut kemudian mempersiapkan pemanggangan alam untuk memasak akar Yam pertama yang berhasil dicabut dari tanah pertama kali pada musim tersebut.

Hal ini harus dilakukan sebab jika terlambat, maka akar tersebut akan mengandung racun dan tidak lagi bisa dikonsumsi. Sampai sekarang, upacara memiliki peranan penting dalam kehidupan Aborigin. Upacara kecil atau ritual, masih dipraktekkan pada beberapa bagian terpencil di Australia, seperti di Australia Tengah dan Arnhem Land, dalam rangka untuk memastikan pasokan makanan nabati dan hewani.

Upacara ini dilakukan dalam bentuk nyanyian, tarian atau tindakan ritual untuk memohon leluhur untuk memastikan penawaran yang baik dari makanan atau hujan. Upacara yang paling penting adalah upacara yang berhubungan dengan inisiasi anak laki-laki dan perempuan menjadi dewasa.

Upacara tersebut kadang-kadang berlangsung selama beberapa minggu dengan bernyanyi dan menari malam, bercerita dan tampilan dekorasi tubuh serta benda-benda upacara. Agama orang aborigin, Australia masih tradisional, mereka percaya terhadap adanya Roh Agung yang menciptakan alam semesta dan isinya.

Mereka percaya bahwa Roh Agung terkadang memberikan petunjuk dan bimbingan melalui mimpi. Agama Aborigin, seperti banyak agama lain, ditandai dengan memiliki dewa lain yang menciptakan manusia dan lingkungan sekitarnya selama periode penciptaan tertentu pada awal waktu.

Orang Aborigin sangat religius dan spiritual, tetapi bukannya berdoa kepada dewa tunggal, tetapi setiap kelompok umumnya percaya kepada sejumlah dewa yang berbeda. Yang gambarnya suka digambarkan dalam dunia nyata, agar bentuknya dikenali.

Orang Aborigin tidak percaya pada animisme, bahwa semua benda-benda alam memiliki jiwa. Mereka juga tidak percaya bahwa batu memiliki jiwa, tetapi mereka percaya bahwa singkapan batu tertentu diciptakan oleh dewa tertentu dalam periode penciptaan, atau bahwa itu merupakan dewa dari Periode Penciptaan.

Mereka percaya bahwa banyak hewan dan tumbuhan yang dipertukarkan dengan kehidupan manusia melalui reinkarnasi dari roh atau jiwa dan mungkin hal ini berkaitan juga dengan Periode Penciptaan, ketika hewa-hewan dan tanaman dulunya manusia. Data sensus menunjukkan bahwa 72% Aborigin mempraktikkan salah satu ‘bentuk’ ajaran Kristen meskipun tidak sama persis, sementara 16% tidak menganut agama apapun.

Saat ini sedang terjadi peningkatan jumlah anggota masyarakat yang mengikuti ajaran Islam. Di antara suku Aborigin Australia, nilai-nilai religius dan tradisi lisan biasanya berdasarkan pada penghormatan terhadap pulau dan alam sekitar yang menjadi tempat tinggal mereka. Pada masa sebelumnya, kelompok yang berbeda menampilkan budaya, kepercayaan dan bahasanya sendiri.

Salah satu budaya yang terkenal dari suku Aborigin adalah senjata berburu yang sering mereka gunakan, yaitu Bumerang. Senjata ini sangatlah unik karena setelah dilempar jauh, dapat kembali lagi, senjata ini sering digunakan untuk berburu di hutan maupun padang savannah.

Dalam kehidupan sehari-hari suku Aborigin memang di habiskan untuk berburu binatang liar seperti Kanguru (binatang khas Australia), selain menggunakan Bumerang mereka juga menggunakan senjata-senjata tradisional seperti tombak dan panah. Bumerang digunakan sebagai alat berburu oleh suku aborigin pada masa lampau.

Bumerang telah diajarkan pada keturunan-keturunan asli suku aborigin dengan tahapan awal menggunakan bumerang kayu lau bumerang logam tumpul dan terakhir menggunakan bumerang logam yang runcing. Bumerang logam runcing inilah yang nantinya digunakan sebagai alat berburu. Bumerang merupakan senjata yang cukup unik karena dapat kembali ketitik awal.

Bumerang sangat identik dengan Australia sebagai daerah tempat tingga suku aborigin dan merupakan salah satu contoh seni rupa terapan yang dihasilkan oleh suku tersebut. Meskipun di beberapa belahan bumi lain juga ditemukan jenis senjata yang hampir sama dengan bumerang namun senjata ini masih tetap diidentikkan sebagai senjata asli suku aborigin di Australia.

Seiring perkembangan jaman, bumerang sekarang bukan lagi digunakan sebagai alat untuk berburu melainkan sebagai sebuah olahraga baru yang memiliki ajang perlombaan.

Penduduk pribumi ini berbicara lebih dari 250 bahasa dan dialek yang berbeda dan dianggap sebagai 20 jenis bahasa di dunia yang terancam punah. Bahasa asli suku Aborigin Australia diketahui tidak terkait dengan salah satu bahasa di bagian lain dunia. Saat ini, hanya ada kurang dari 200 bahasa asli Australia yang digunakan.

Ahli bahasa mempelajari bahasa Australia dengan dua jenis yaitu:

  1. Pama Nyungan.
  2. Non-Pama Nyungan.0

Bahasa Pama-Nyungan mayoritas terdiri dari keluarga suku Aborigin (suku yang terkait dengan bahasa itu saja), sedangkan yang tidak berhubungan dipelajari ahli sebagai bahasa non-Pama Nyungan. Kelompok bahasa tersebut diyakini sebagai hasil dari kontak yang lama dan intim. Sebuah fitur umum dari bahasa adalah bahwa mereka menampilkan cara bicara khusus yang intim digunakan dan hanya digunakan di hadapan kerabat.

Seni dan Lukisan Aborigin Australia

Kebudayaan Australia kaya akan tradisi seni Aborigin. Bentuk kesenian Aborigin mengingatkan kembali ke masa lebih dari ribuan tahun yang lalu. Seni pahat batuan dan lukisan kulit kayu menampilkan kehidupan Aborigin yang selaras dengan alam. Hubungan antara masyarakat Aborigin dan lingkungannya paling terlihat dalam penggunaan warna alami dalam lukisan yang sebagian besar terbuat dari oker (ochre).

Meskipun saat ini para seniman Aborigin modern masih meneruskan tradisi, tetapi mereka juga mulai mengadopsi material modern yang serbaguna. Selain memiliki pelanggan internasional, kesenian asli Aborigin juga menjadi sumber pendapatan yang besar untuk beberapa komunitas di Australia.

Pada akhir tahun 1930-an, sekelompok seniman Aborigin yang tinggal di Hermannsburg di Australia bagian tengah mengembangkan style lukisan lanskap dengan warna air. Seniman yang paling terkenal saat itu adalah Albert Namatjira. Sejak tahun 1970-an, seniman Aborigin di seluruh Australia telah menggunakan berbagai media, terutama akrilik di atas kanvas.

Pada awal 1970-an, sekelompok seniman di Papunya, Northern Territory, mulai menggambarkan ritual keagamaan mereka dan cerita leluhur di atas kanvas. Karya-karya seniman Papunya seperti Clifford Possum Tjapaltjarri dan Michael Nelson Tjakamrra serta Emily Kngwarreye dari Utopia di Northern Territory kini sudah diakui sebagai sumbangsih berharga pada seni dunia yang sangat asli.

Seni cadas Aborigin adalah salah satu seni tradisional tertua di dunia yang masih ada hingga kini. Banyak situs seni cadas Australia yang berusia 40.000 tahun dan ada pula yang jauh lebih tua. Seni cadas terdiri atas lukisan dan ukiran pada permukaan batu, terutama pada dinding batu yang terlindung oleh bebatuan yang menggantung.

Seni cadas lainnya menggambarkan manusia, hewan dan tokoh-tokoh mitos. Lukisan tradisional yang disebut lukisan X–ray menunjukkan organ dan tulang dari hewan dalam garis tubuhnya.

Ada lebih dari 100.000 situs seni cadas ditemukan di Australia, terutama di New South Wales, di bagian utara Queensland dan Australia Barat, serta di seluruh Northern Territory. Kebudayaan Australia kaya akan tradisi seni Aborigin. Seni pahat batuan dan lukisan kulit kayu menampilkan kehidupan Aborigin yang selaras dengan alam.

Konsep kesenian bagi masyarakat tradisional Aborigin jauh berbeda dari konsep kesenian masyarakat Eropa. Dalam masyarakat Aborigin, aktivitas seperti tarian, nyanyian, gambaran pasir, membuat perabot atau menenun keranjang tidak dianggap sebagai aktivitas berbeda seperti ‘Art and Design’ di Eropa.

Semua aktivitas tersebut adalah bagian Dreaming dan kehidupan sehari-hari. Lagi pula, tidak ada konsepsi orang ahli kesenian dan seniman, karena semua orang adalah seniman. Orang Aborigin secara tradisional mengunakan bahan alami yang tersedia untuk keseniannya. Di seluruh Australia, lukisan tanah dan gua serta lukisan badan dan dekorasi sangat penting dan memakai bermacam-macam cara dan gaya.

Tarian dan musik juga penting sekali bagi masyarakat Aborigin sebagai ekspresi kesenian dan juga dipengaruhi lingkungan alami. Masa kini, komunitas-komunitas Aborigin di seluruh Australia masih membuat lukisan serta menari dan main musik secara tradisional. Walalupun demikian, makin lama makin banyak kesenian Aborigin dipengaruhi teknik modern.

Misalnya, cat akrilik dan kertas (bukan kulit kayu) digunakan untuk lukisan dan tarian bisa dimainkan tidak hanya untuk tuntunan atau tontonan khusus Aborigin, tetapi juga untuk ditonton para wisatawan.

Kesenian Aborigin amat sangat beragam namun juga merupakan satu kesatuan, dengan kisah dan tema yang secara konsisten bersumber dari negeri ini dan spiritualitasnya. Dengan menjelajahi koleksi yang luar biasa besar di Galeri Nasional Australia, Anda dapat benar-benar menghargai keragaman gaya dan media artistik serta hal-hal yang menjadi inspirasi umum.

Sempat terjadi diskriminasi dari orang-orang Eropa terhadap suku Aborogin, bahkan suku Aborigin kerapkali dianggap sebagai Fauna (hewan) namun diskriminasi tersebut saat ini berangsur-angur melunak dan salah satu strategi politik untuk permasalahan Aborigin adalah dengan proses Asimilasi antara orang kulit putih dan kulit hitam Suku Aborigin.

Perkawinan campur ini banyak membuat anak-anak mereka menjadi tidak lagi berkulit hitam, bahkan untuk generasi-generasi berikutnya semakin putih sama dengan orang Eropa. Untuk itu demikianlah ulasan mengenai suku aborigin, semoga informasi diatas dapat memberikan manfaat kepada pembaca.